Sabtu, 06 Desember 2014

CLASS MEETING



Setelah selesai melaksanakan ulangan semester gasal 2014/2015, SMP Negeri 4 Ngawi akan melaksanakan lomba/pertandingan antar kelas atau yang biasa disebut class meeting. Kegiatan diadakan dengan tujuan selain untuk mengisi aktivitas siswa setelah ulangan selesai sambil menunggu penerimaan rapot dari wali kelas masing-masing, juga sebagai ajang menyalurkan sekaligus mengembangkan kemampuan dan bakat siswa dalam bidang akademik maupun non akademik, termasuk bidang seni. .

Adapun kegiatan yang wajib diikuti oleh peserta dari wakil masing-masing kelas sebanyak 24 kelas, terdiri dari :
-          Lomba mata pelajaran/Olimpiade > Matematika – IPA – IPS – BAHASA INGGRIS
-          Menghafal Asmaul Husna
-          Lomba adzan
-          Catur
-          Pencak Silat seni tunggal
-          Menghias nasi tumpeng dan
-          Karaoke
Kegiatan yang akan dilaksanakan mulai tanggal 15 – 19 Desember 2014 rencananya diadakan di lingkungan SMP Negeri 4 Ngawi itu akan melibatkan Bapak/Ibu guru sebagai Pembina dan sekaligus sebagai yuri lomba.

Semarakkan lomba dengan berpartisipasi mengikutinya, untuk meningkatkan prestasi baik akademik maupun non akademik (IR)

Kamis, 20 November 2014

KEGIATAN JUMAT



JIKA SENANG LUPA MASA SULITNYA

Alhamdulillah setelah beberapa lama gak sempat upload di blog, hari ini bisa muncul kembali.
Rencana Kegiatan Sholat Jumat tangal 21 Nopember 2014  akan diikuti oleh klas 7 dan sebagai petugas Khotib dan Imam adalah Drs Irfan Budi Kustanto, MA.
Rencananya akan mengangkat sebuah tema tentang ujian Allah swt dalam kehidupan ini yang berupa kesusahan dan kesenangan. Berikut teks Khutbah yang diambil dan diedit dari majalah SM 05/98

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang masih memberikan anugerah, hidayah, taufik dan inayah-Nya.
Shalawat dan salam selalu kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’indan semuanya yang mengikuti jejak beliau sampai yaumul qiyamah.

Jamaah Jum’at rahimakumullah
Suatu yang wajar bila seseorang berharap untuk menjadi kaya, orang bodoh bercita-cita menjadi pintar, pejabat rendahan menginginkan jabatan yang tinggi. Seorang pengangguran ingin cepat mendapat pekerjaan tetap, seorang politisi ingin segera mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya.
Semua keinginan itu wajar dan boleh-boleh saja. Agama tidak melarang. Bahkan Allah membuka pintu khusus bagi mereka yang punya berbagai harapan. Jika dimohon dengan sungguh-sungguh, Allah pasti mengabulkan. Banyak atau sedikit, dalam tempo segera atau ditunda, semua bergantung pada kemurahan Allah Swt.
Pada dasarnya semua yang ditimpakan kepada manusia baik atau buruk adalah ujian. Tapi ternyata hanya mereka yang ditimpa keburukan saja yang merasa diuji, sementara yang
diberi kebaikan merasa dikasihi.
Padahal bisa jadi yang ditimpa keburukan itu justru yang menjadi kekasih Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam Qs. Al-Anbiya [21]: 35 berikut :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan d
dikembalikan.” (Al-Anbiya [21]: 35).

Nabi Sulaiman diuji dengan banyaknya harta, tapi ia lulus karena selalu sadar, bahwa harta yang dimilikinya adalah karunia sekaligus ujian dari Allah Swt.

“… Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)...”(An-Naml [27]: 40)
Nabi Ayyub dicoba dengan berbagai penderitaan, mulai dari kemiskinan hingga sakit yang tak kunjung sembuh. Tapi ia lulus menghadapi ujian tersebut, karena tetap dalam keadaan sabar dan tawakal.
Beliau menyadari bahwa kesenangan yang diberikan Allah masih jauh lebih besar daripada penderitaan yang dialami. Ketika istrinya mengusulkan agar minta kepada Allah Swt kesembuhan atas penyakitnya, ia berkata:
“Aku malu kepada Allah. Bertahuntahun aku sehat dan kaya, sementara baru beberapa saat saja aku sakit dan jatuh miskin.”

Jamaah Jum’at rahimakumullah
Sebagian di antara kita ada yang tidak tahan menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt, utamanya jika ujian yang diberikan berupa penderitaan dan kemiskinan. Jika boleh memilih,
kita lebih suka diuji dengan berbagai kebaikan. Karena tidak sedikit diantara kita yang berandai-andai. Seandainya saya diberi kekayaan, maka sebagian besar kekayaan itu saya sedekahkan untuk sebagian yatim piatu, pembangunan masjid, proyek kesejahteraan umat, dan berbagai amal shalih lainnya. Tidak jarang pula pengandaian tersebut justru berubah
menjadi janji kepada diri sendiri bahkan kepada Allah Swt.
Janji seperti ini dilakukan oleh banyak orang dengan berbagai hajat dan kebutuhan. Ketika sebuah kapal mengalami musibah kebakaran, semua penumpangnya menjadi panik.

Di antara mereka ada yang berjanji dengan sepenuh hati, jika Allah Swtmenyelamatkan jiwanya, maka sisa umurnya akan dihabiskan untuk amal shalih dan beribadah kepada-Nya.
Bertahun-tahun seorang lelaki setengah baya terbaring di rumah sakit. Berbagai terapi telah dijalani, berbagai obat telah ditelan, akan tetapi kondisi tetap seperti semula, malah lebih parah lagi. Disaat seperti ini ia khusyu’ berdoa kepada Allah Swt dan berjanji, bila kelak diberi kesembuhan, maka seluruh amal maksiatnya akan segera ditinggalkan, sebagian hartanya akan didermakan, dan ia akan kembali ke jalan kebenaran.
Seorang pegawai rendahan berusaha keras untuk menaikkan jabatannya. Ia berusaha sekolah lebih tinggi dengan harapan bisa naik pangkat lebih cepat. Di tengah usaha kerasnya ia berjanji bila kelak menduduki jabatan tinggi akan memperhatikan nasib bawahan dan memperjuangkan tingkat kesejahteraannya. Janji itu kadang tidak disembunyikan untuk dirinya sendiri, tapi juga disampaikan kepada orang lain, dalam hal ini rekan-rekan senasib
sepenanggungan.

Barangkali orang-orang yang  disebutkan di atas adalah diri kita sendiri. Kita ternyata juga tidak lepas dari janji-janji seperti itu. Ketika masih mahasiswa, kita idealis sekali. Semua
tindak korupsi ditentang, malah berdemonstrasi. Kita menuntut keadilan dan kejujuran semua pihak. Dalam diri kita ada semangat juga janji kepada diri sendiri, jika kelak kita menjadi pejabat, kita tidak akan mengulangi hal yang sama. Semua korupsi kita tindak, semua yang tidak jujur kita sikat. Tapi, bagaimana setelah kita sekarang menjadi pejabat?
Sungguh mudah bagi kita untuk membuat janji. Baik janji kepada diri sendiri, kepada orang lain, lebih-lebih kepada Allah Swt. Akan tetapi, jika sebagian harapan kita telah terpenuhi,
maka janji tinggallah janji. Ketika Allah memberi kekayaan, kita malah korupsi.
Ketika Allah memberi tambahan umur malah kita manjauh dari ibadah,mendekat kepada maksiat.

Jamaah Jum’at rahimakumullah.
Kondisi seperti inilah yang kemudian diangkat oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an surat At-Taubah [9] ayat 75-78 yang artinya : “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagain karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan dalam hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?”(At-Taubah [9] : 75-78)

Marilah kita bersama-sama untuk dapat memegang janji yang telah kita ucapkan baik kepada diri sendiri, orang lain, lebih-lebih kepada Allah Swt.
Jangan sampai kita memiliki predikat sebagai orang yang selalu mengingkari janji dan pendusta. Serta ingat-ingatlah masa-masa lalu kita sebagai bahan renungan dan introspeksi diri kita untuk selalu memegang janji yang telah diucapkan dan melakukannya ketika kita sudah mampu melakukannya.•

Jumat, 19 September 2014

KHUTBAH JUM'AT



JALAN MENUJU SURGA

 (Khutbah JUM'AT 19 September 2014 -
disampaikan oleh Bpk. Joko Setyono, S.Pd, M.Si)

Sebagai realisasi rasa syukur
kita kepada Allah swt, marilah kita tingkatkan
takwa kita kepada-Nya, dengan
menjalankan perintah-perintahNya
dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Allah swt telah memberikan dua pilihan:
mana yang baik dan mana
yang buruk, ke surga atau ke
neraka. Setiap Muslim tentu
berkeinginan masuk surga.

Suatu ketika, seseorang
menghadap Rasulullah saw untuk
minta informasi:
Hai Rasulullah, kabarkan
kepada saya, amal yang
menyebabkan saya masuk surga.
Rasulullah saw bersabda,
“Hendaklah kamu beribadah
kepada Allah dan janganlah
kamu menyekutukan Dia dengan
suatu apa pun, dirikanlah shalat,
tunaikan zakat, dan sambunglah
tali silaturrahim.”(HR. Bukhari
dan Muslim).

Berdasarkan Hadits tersebut
diperoleh informasi, amal yang
menyebabkan seseorang masuk
surga, meliputi:

Pertama : Beribadah kepada
Allah dan tidak menyekutukanNya.
Minimal 17 kali tiap hari umat
Islam yang mengerjakan shalat
berikrar:
"Hanya kepada-Mu kami

menyembah, dan hanya kepadaMu

kami mohon pertolongan".
Akan tetapi, tidak sedikit di
antara mereka yang munafik.
Artinya, mereka sudah berjanji
hanya kepada Allah mereka
menyembah, tetapi masih banyak
di antara mereka “menyembah”
selain Allah atau berbuat syirik .
Misalnya:
Memilih hari dan jam tertentu
ketika akan mempertemukan
kedua mempelai, mendirikan
rumah, menempati rumah baru,
dan sebagainya.
Membuat makanan tertentu
atau memotong hewan untuk
sesaji, walaupun hanya memotong
seekor lalat. Ada sebuah riwayat,
gara-gara lalat, seseorang masuk
surga, dan gara-gara lalat pula,
seseorang masuk neraka.
“Dua orang sedang menempuh
perjalanan. Ketika sampai pada
perbatasan sebuah desa, keduanya
dihadang oleh beberapa petugas
perbatasan itu. Keduanya
diizinkan meneruskan perjalanan
atau melewati perbatasan tersebut
dengan syarat memotong
hewan—walaupun hanya seekor
lalat—untuk sesaji. Orang
pertama menangkap seekor lalat
lalu meletakkannya di tempat yang
telah disediakan untuk sesaji.
Orang ini selamat dan diizinkan
melanjutkan perjalanan, tetapi dia
calon penduduk neraka. Orang
kedua tidak mau memberikan
sesaji walaupun hanya seekor
lalat. Orang kedua ini dibunuh,
tetapi dia calon penduduk surga.

Kedua : Mendirikan shalat
Mendirikan shalat meliputi tiga
tahap:
n  -  Tahap I adalah pemulaan,
yaitu hal-hal yang dilakukan
sebelum shalat. Misalnya
menyempurnakan wudlu.

Rasulullah saw pernah menegur
seseorang yang tidak sempurna
wudlunya.
Dari Anas, ia berkata bahwa
Nabi saw melihat seseorang yang
di kakinya tidak kena air sebesar
kuku; lalu beliau saw bersabda,
“Kembalilah dan baguskanlah
wudlumu!”
n  - Tahap II adalah
pelaksanaan.Agar shalat kita
tidak sia-sia, maka harus kita
laksanakan sesuai dengan contoh
dari Rasulullah saw. Di samping
itu, harus kita laksanakan dengan
sebaik-baiknya, misalnya dengan
membayangkan bahwa di depan
kita ada Kakbah, di sebelah kanan
kita ada surga, di sebelah kiri kita
ada neraka, dan di belakang kita
ada kematian.Dengan demikian
kita akan berusaha melaksanakan
shalat dengan sebaik-baiknya.
n  - Tahap III adalah penilaian.
Shalat akan bernilai lebih, apabila
dilaksanakan dengan berjamaah.
Selain pahalanya dilipatkan 27
kali, shalat berjamaah memiliki
banyak fungsi. Misalnya,
berfungsi meningkatkan
kerukunan atau relasi sosial,
kedisiplinan, ketaatan kepada
pemimpin, menyusun kekuatan,
menghindarkan diri dari
kehancuran, dan lain-lain.

Ketiga : Menunaikan zakat.
Setiap manusia telah
ditentukan rizkinya oleh Allah.
Akan tetapi, tidak sama
jumlahnya. Karena itu, ada
manusia yang hidup
berkecukupan (kaya) dan ada
manusia yang hidup kekurangan
(miskin). Untuk membersihkan
harta si kaya, dan agar tidak
terjadi jurang pemisah antara si
kaya dan si miskin, Allah
menurunkan perintah zakat.

Keempat : Menyambung tali
silaturahim.
Orang yang berakhlak mulia
akan memiliki banyak teman dan
dimurahkan rizkinya. Sebaliknya,
akhlak tercela bisa menutup pintu
rizki dan memutuskan tali
silaturahim. Hal ini dibenci oleh
Allah. Bahkan, orang yang
memutuskan tali silaturahim
diancam tidak masuk surga.
Sebagaimana sabda Rasulullah
Saw : “Tidak masuk surga orang yang
memutus, yaitu memutus tali
silaturahim” (Muttafaq alaih)-- [IR].
==sumber :SM 21/98, NOP 2013==