JIKA SENANG LUPA MASA SULITNYA
Alhamdulillah setelah beberapa lama
gak sempat upload di blog, hari ini bisa muncul kembali.
Rencana Kegiatan Sholat Jumat tangal
21 Nopember 2014 akan diikuti oleh klas
7 dan sebagai petugas Khotib dan Imam adalah Drs Irfan Budi Kustanto, MA.
Rencananya akan mengangkat sebuah
tema tentang ujian Allah swt dalam kehidupan ini yang berupa kesusahan dan
kesenangan. Berikut teks Khutbah yang diambil dan diedit dari majalah SM 05/98
Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan
keimanan dan ketakwaan, serta memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ilahi
Rabbi yang masih memberikan anugerah, hidayah, taufik dan inayah-Nya.
Shalawat dan salam selalu kita
haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, tabi’in,
tabi’it-tabi’indan semuanya yang mengikuti jejak beliau sampai yaumul qiyamah.
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Suatu yang wajar bila seseorang berharap
untuk menjadi kaya, orang bodoh bercita-cita menjadi pintar, pejabat rendahan
menginginkan jabatan yang tinggi. Seorang pengangguran ingin cepat mendapat
pekerjaan tetap, seorang politisi ingin segera mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya.
Semua keinginan itu wajar dan boleh-boleh
saja. Agama tidak melarang. Bahkan Allah membuka pintu khusus bagi mereka yang
punya berbagai harapan. Jika dimohon dengan sungguh-sungguh, Allah pasti mengabulkan.
Banyak atau sedikit, dalam tempo segera atau ditunda, semua bergantung pada
kemurahan Allah Swt.
Pada dasarnya semua yang ditimpakan
kepada manusia baik atau buruk adalah ujian. Tapi ternyata hanya mereka yang
ditimpa keburukan saja yang merasa diuji, sementara yang
diberi kebaikan merasa dikasihi.
Padahal bisa jadi yang ditimpa keburukan
itu justru yang menjadi kekasih Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam Qs.
Al-Anbiya [21]: 35 berikut :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan d
dikembalikan.” (Al-Anbiya [21]:
35).
Nabi Sulaiman diuji dengan
banyaknya harta, tapi ia lulus karena selalu sadar, bahwa harta yang
dimilikinya adalah karunia sekaligus ujian dari Allah Swt.
“… Ini termasuk karunia Tuhanku untuk
mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)...”(An-Naml
[27]: 40)
Nabi Ayyub dicoba dengan berbagai
penderitaan, mulai dari kemiskinan hingga sakit yang tak kunjung sembuh. Tapi
ia lulus menghadapi ujian tersebut, karena tetap dalam keadaan sabar dan
tawakal.
Beliau menyadari bahwa kesenangan
yang diberikan Allah masih jauh lebih besar daripada penderitaan yang dialami.
Ketika istrinya mengusulkan agar minta kepada Allah Swt kesembuhan atas
penyakitnya, ia berkata:
“Aku malu kepada Allah.
Bertahuntahun aku sehat dan kaya, sementara baru beberapa saat saja aku sakit
dan jatuh miskin.”
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Sebagian di antara kita ada yang tidak
tahan menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt, utamanya jika ujian yang
diberikan berupa penderitaan dan kemiskinan. Jika boleh memilih,
kita lebih suka diuji dengan
berbagai kebaikan. Karena tidak sedikit diantara kita yang berandai-andai.
Seandainya saya diberi kekayaan, maka sebagian besar kekayaan itu saya
sedekahkan untuk sebagian yatim piatu, pembangunan masjid, proyek kesejahteraan
umat, dan berbagai amal shalih lainnya. Tidak jarang pula pengandaian tersebut
justru berubah
menjadi janji kepada diri sendiri
bahkan kepada Allah Swt.
Janji seperti ini dilakukan oleh banyak
orang dengan berbagai hajat dan kebutuhan. Ketika sebuah kapal mengalami
musibah kebakaran, semua penumpangnya menjadi panik.
Di antara mereka ada yang
berjanji dengan sepenuh hati, jika Allah Swtmenyelamatkan jiwanya, maka sisa umurnya
akan dihabiskan untuk amal shalih dan beribadah kepada-Nya.
Bertahun-tahun seorang lelaki setengah
baya terbaring di rumah sakit. Berbagai terapi telah dijalani, berbagai obat
telah ditelan, akan tetapi kondisi tetap seperti semula, malah lebih parah lagi.
Disaat seperti ini ia khusyu’ berdoa kepada Allah Swt dan berjanji, bila kelak
diberi kesembuhan, maka seluruh amal maksiatnya akan segera ditinggalkan,
sebagian hartanya akan didermakan, dan ia akan kembali ke jalan kebenaran.
Seorang pegawai rendahan berusaha
keras untuk menaikkan jabatannya. Ia berusaha sekolah lebih tinggi dengan
harapan bisa naik pangkat lebih cepat. Di tengah usaha kerasnya ia berjanji
bila kelak menduduki jabatan tinggi akan memperhatikan nasib bawahan dan
memperjuangkan tingkat kesejahteraannya. Janji itu kadang tidak disembunyikan
untuk dirinya sendiri, tapi juga disampaikan kepada orang lain, dalam hal ini
rekan-rekan senasib
sepenanggungan.
Barangkali orang-orang yang disebutkan di atas adalah diri kita sendiri.
Kita ternyata juga tidak lepas dari janji-janji seperti itu. Ketika masih mahasiswa,
kita idealis sekali. Semua
tindak korupsi ditentang, malah berdemonstrasi.
Kita menuntut keadilan dan kejujuran semua pihak. Dalam diri kita ada semangat
juga janji kepada diri sendiri, jika kelak kita menjadi pejabat, kita tidak
akan mengulangi hal yang sama. Semua korupsi kita tindak, semua yang tidak
jujur kita sikat. Tapi, bagaimana setelah kita sekarang menjadi pejabat?
Sungguh mudah bagi kita untuk membuat
janji. Baik janji kepada diri sendiri, kepada orang lain, lebih-lebih kepada
Allah Swt. Akan tetapi, jika sebagian harapan kita telah terpenuhi,
maka janji tinggallah janji.
Ketika Allah memberi kekayaan, kita malah korupsi.
Ketika Allah memberi tambahan
umur malah kita manjauh dari ibadah,mendekat kepada maksiat.
Jamaah Jum’at rahimakumullah.
Kondisi seperti inilah yang kemudian diangkat oleh Allah Swt
dalam Al-Qur’an surat At-Taubah [9] ayat 75-78 yang artinya : “Dan di antara
mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, sesungguhnya jika Allah memberikan
sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah
kami termasuk orang-orang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka
sebagain karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka
memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan
kemunafikan dalam hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena
mereka memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga
karena mereka selalu berdusta.
Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah
amat mengetahui segala yang ghaib?”(At-Taubah [9] : 75-78)
Marilah kita bersama-sama untuk dapat
memegang janji yang telah kita ucapkan baik kepada diri sendiri, orang lain,
lebih-lebih kepada Allah Swt.
Jangan sampai kita memiliki
predikat sebagai orang yang selalu mengingkari janji dan pendusta. Serta
ingat-ingatlah masa-masa lalu kita sebagai bahan renungan dan introspeksi diri
kita untuk selalu memegang janji yang telah diucapkan dan melakukannya ketika kita
sudah mampu melakukannya.•