JALAN
MENUJU SURGA
(Khutbah JUM'AT 19 September 2014 -
disampaikan oleh Bpk. Joko Setyono, S.Pd, M.Si)
Sebagai realisasi rasa syukur
kita kepada Allah swt, marilah kita tingkatkan
takwa kita kepada-Nya, dengan
menjalankan perintah-perintahNya
dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Allah swt telah memberikan dua pilihan:
mana yang baik dan mana
yang buruk, ke surga atau ke
neraka. Setiap Muslim tentu
berkeinginan masuk surga.
Suatu ketika, seseorang
menghadap Rasulullah saw untuk
minta informasi:
Hai Rasulullah, kabarkan
kepada saya, amal yang
menyebabkan saya masuk surga.
Rasulullah saw bersabda,
“Hendaklah kamu beribadah
kepada Allah dan janganlah
kamu menyekutukan Dia dengan
suatu apa pun, dirikanlah shalat,
tunaikan zakat, dan sambunglah
tali silaturrahim.”(HR. Bukhari
dan Muslim).
Berdasarkan Hadits tersebut
diperoleh informasi, amal yang
menyebabkan seseorang masuk
surga, meliputi:
Pertama : Beribadah kepada
Allah dan tidak menyekutukanNya.
Minimal 17 kali tiap hari umat
Islam yang mengerjakan shalat
berikrar:
"Hanya kepada-Mu kami
menyembah, dan hanya kepadaMu
kami mohon pertolongan".
Akan tetapi, tidak sedikit di
antara mereka yang munafik.
Artinya, mereka sudah berjanji
hanya kepada Allah mereka
menyembah, tetapi masih banyak
di antara mereka “menyembah”
selain Allah atau berbuat syirik .
Misalnya:
Memilih hari dan jam tertentu
ketika akan mempertemukan
kedua mempelai, mendirikan
rumah, menempati rumah baru,
dan sebagainya.
Membuat makanan tertentu
atau memotong hewan untuk
sesaji, walaupun hanya memotong
seekor lalat. Ada sebuah riwayat,
gara-gara lalat, seseorang masuk
surga, dan gara-gara lalat pula,
seseorang masuk neraka.
“Dua orang sedang menempuh
perjalanan. Ketika sampai pada
perbatasan sebuah desa, keduanya
dihadang oleh beberapa petugas
perbatasan itu. Keduanya
diizinkan meneruskan perjalanan
atau melewati perbatasan tersebut
dengan syarat memotong
hewan—walaupun hanya seekor
lalat—untuk sesaji. Orang
pertama menangkap seekor lalat
lalu meletakkannya di tempat yang
telah disediakan untuk sesaji.
Orang ini selamat dan diizinkan
melanjutkan perjalanan, tetapi dia
calon penduduk neraka. Orang
kedua tidak mau memberikan
sesaji walaupun hanya seekor
lalat. Orang kedua ini dibunuh,
tetapi dia calon penduduk surga.
Kedua : Mendirikan shalat
Mendirikan shalat meliputi tiga
tahap:
n
- Tahap I adalah pemulaan,
yaitu hal-hal yang dilakukan
sebelum shalat. Misalnya
menyempurnakan wudlu.
Rasulullah saw pernah menegur
seseorang yang tidak sempurna
wudlunya.
Dari Anas, ia berkata bahwa
Nabi saw melihat seseorang yang
di kakinya tidak kena air sebesar
kuku; lalu beliau saw bersabda,
“Kembalilah dan baguskanlah
wudlumu!”
n
- Tahap II adalah
pelaksanaan.Agar shalat kita
tidak sia-sia, maka harus kita
laksanakan sesuai dengan contoh
dari Rasulullah saw. Di samping
itu, harus kita laksanakan dengan
sebaik-baiknya, misalnya dengan
membayangkan bahwa di depan
kita ada Kakbah, di sebelah kanan
kita ada surga, di sebelah kiri kita
ada neraka, dan di belakang kita
ada kematian.Dengan demikian
kita akan berusaha melaksanakan
shalat dengan sebaik-baiknya.
n
- Tahap III adalah penilaian.
Shalat akan bernilai lebih, apabila
dilaksanakan dengan berjamaah.
Selain pahalanya dilipatkan 27
kali, shalat berjamaah memiliki
banyak fungsi. Misalnya,
berfungsi meningkatkan
kerukunan atau relasi sosial,
kedisiplinan, ketaatan kepada
pemimpin, menyusun kekuatan,
menghindarkan diri dari
kehancuran, dan lain-lain.
Ketiga : Menunaikan zakat.
Setiap manusia telah
ditentukan rizkinya oleh Allah.
Akan tetapi, tidak sama
jumlahnya. Karena itu, ada
manusia yang hidup
berkecukupan (kaya) dan ada
manusia yang hidup kekurangan
(miskin). Untuk membersihkan
harta si kaya, dan agar tidak
terjadi jurang pemisah antara si
kaya dan si miskin, Allah
menurunkan perintah zakat.
Keempat : Menyambung tali
silaturahim.
Orang yang berakhlak mulia
akan memiliki banyak teman dan
dimurahkan rizkinya. Sebaliknya,
akhlak tercela bisa menutup pintu
rizki dan memutuskan tali
silaturahim. Hal ini dibenci oleh
Allah. Bahkan, orang yang
memutuskan tali silaturahim
diancam tidak masuk surga.
Sebagaimana sabda Rasulullah
Saw : “Tidak masuk surga orang yang
memutus, yaitu memutus tali
silaturahim” (Muttafaq alaih)-- [IR].
==sumber :SM 21/98, NOP 2013==