Senin, 19 Mei 2014

HIKMAH



KISAH ANAK DENGAN AYAH IBUNYA

Suatu sore, seorang ayah sedang minum kopi duduk diteras depan sambil menunggu datangnya adzan maghrib. Lalu anaknya yang sudah menginjak usia dewasa datang menghampirinya, “Pak, beli motor ya?”, pintanya.
Ayah tak menjawab, hanya diam dan mengusap kepala sang anak. Tak ada jawaban, ia pun pergi meninggalkan ayahnya.
Tiga hari kemudian, dia kembali lagi. “Ayah, sekarang Ade banyak sekali kerjaan yah.
Coba deh ayah bayangin, Ade bolak balik ke kampus, udah gitu harus ngajar disekolah yang jauh, naik angkot sekitar 45 menit”, tuturnya.
“terus?”, balas Ayahanda tercinta.
“hemm, jadi kadang kakiku pegel yah, terus kalau di angkot suka ketiduran, eh malah sakit leher ini.
Kayaknya kalau Ade punya kendaraan sendiri, gak akan pegel pegel deh yah?”,jelasnya.
Seperti biasa, ayah tetap tak menjawab.
Pelan, dengan penuh sayang ia belai anak tercintanya itu.
Merasa tidak puas, ia pun pergi meninggalkan ayahanda tercinta.
Satu minggu kemudian, ia pun kembali menghampiri ayah yang sedang asyik baca koran.
“Yah, kemarin ada temen yang nawarin motor. Murah loh yah, masih bagus pula”,katanya.
“wah, berapa harganya?”, jawab ayah.
“tujuh juta yah, murah kan?”, balasnya.
“Ohh…”, lalu ayah terdiam tanpa ada satu kata pun keluar.
Singkat cerita, malam harinya, si anak terbangun dari tidurnya, padahal masih pukul 02.30 dini hari.
Karena nanggung tidur lagi, akhirnya ia putuskan tuk menunggu adzan subuh dengan shalat malam.
Lepas mengambil air wudhu, ia mendengar ada suara bisik orang lagi mengobrol.
Ia pun mencoba mendekatinya, dan ternyata bersumber dari kamar kedua orang tuanya.
Ia pun merapatkan telinganya ke daun pintu, berusaha menyimak obrolan didalam sana.
“Bu, tabungan masih ada?”, tanya ayah.
“masih, kenapa yah?”, jawab ibu tenang.
“ada berapa bu?”, tanya ayah kembali.
“lumayan, ada tiga juta. Tapi, ibu anggarkan untuk bayar uang kos sama bayar kuliah Ade. Emang kenapa yah?”
“ohh, enggak. Kalo ditambah tabungan ayah jadi enam juta, masih kurang satu juta lagi. Gimana yah bu?”,tutur ayah pelan.
“emang buat apa yah?”, tanya ibu, heran.
“gini bu, Ade butuh motor, harganya tujuh juta”, jawab ayah.
“Ohh, buat itu. Ya udah, sisanya kita pinjem ke bank aja yah, gimana?”, saran ibu.
“Bisa sih, tapi uang ibu itu, gimana? Buat bayar ini dan itu..”, kata ayah.
“gampang aja, ibu bisa pinjem dulu ke tetangga sebelah. Yang penting Ade punya motor, mungkin dia butuh yah”, tutur ibu.
“iya bu, ayah gak tega kalau setiap hari Ade harus jalan, kakinya pegel, atau naik angkot sampe lehernya sakit, bolak balik kampus.
Gimana kalau Ade sakit karena kecapean bu, ayah khawatir”, jelas ayah.
“ya udah, ambil aja tabungan ibu yah. Sisanya kita cari besok, moga aja dapet. Ntar kita beli motor yang bagus buat Ade, biar gak pegel pegel lagi”, kata ibu.
Si anak yang mendengar obrolan malam itu, hanya diam terpaku dibelakang pintu.
Ia jatuh lunglai, lemas mendengar obrolan ayah dan ibunya.
Namun segera ia bangkit dan jalan perlahan menuju kamar.
Delapan rakaat tahajjud, ditutup witir ia tunaikan. Setangkai do’a ia lantunkan, bisik lirih hatinya disertai deraian air mata,
“Ya Rabb...., betapa naif dan egois diri hamba. Mudah mulut hamba berucap, minta ini dan itu. Tanpa hamba tau, betapa sulit ayah dan ibu untuk mengabulkannya.
Ya Rabb...., ampuni hamba, atas kelalaian ini. Ampuni dan lindungi pula kedua orang tuaku, yang selalu tersenyum didepanku, selalu memberikan motivasi kepadaku, selalu mengerti aku… walaupun, sedikit aku mengerti mereka.
Ya Rabb ...., dewasakanlah aku, agar menjadi anak yang baik, anak yg tetep mau berbakti kepada orang tua dan jadikanlah hamba yang baik, aamiin”
Seperti panas gersang tersiram hujan, ketenangan mengalir dalam darahnya.
Esok paginya, dia menghampiri ayah yang sedang duduk diteras.
“Ayah, Ade habis baca artikel tentang kesehatan.
Ternyata, jalan kaki itu sehat yah, apalagi kalau rutin.
Pantes yah, Ade jarang sakit.
Terus, Ade tau supaya gak sakit leher di angkot, Ade harus duduk di kursi depan, jadi posisi tubuh Ade lurus. Jadi, misalnya gak punya kendaraan sendiri juga, oke aja tuh.
Toh, entar kalau punya motor ribet juga ngerawatnya yah… “
Ayah hanya tersenyum, dan membelai penuh sayang anaknya tercinta.
Sesekali ia menyeka air mata yang menyembul dari matanya.
*****
Kadang kita suka meminta sesuatu pada seseorang, terutama kepada ayah dan bunda kita, tapi kita tak pernah sadari sekalipun untuk memikirkan bagaimana perjuangan mereka untuk membahagiakan kita.
Saat ayah dan bunda tak mengabulkan keinginan kita, bukan berarti mereka pelit.
TAPI ada banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, hanya kita tidak menyadarinya.

(Copas from FB dg beberapa edit)

Jumat, 09 Mei 2014

KEGIATAN PAI

KHUTBAH JUM’AT

Kegiatan rutin mapel Pendidikan Agama Islam untuk sholat Jum’at, 9 Mei 2014 dilaksanakan oleh kelas 8 - sebagai petugas Imam dan Khotib adalah Bp. Priono, S.Pd. Kali ini mengambil topik pembicaraan tentang Pemuda dan Perjuangan Islam.

Mengawali khutbahnya waka urusan Kurikulum ini mengangkat cuplikan sejarah Islam pada masa Rasulullah saw. beserta para sahabat beliau yg bisa dijadikan uswah hasanah khususnya bagi pemuda dan remaja Muslim saat ini.
Diriwayatkan pada saat menjelang keberangkatan Rasulullah dan para sahabatnya ke medan perang Badar, datanglah seorang remaja menghadap Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang  dengan  membawa  sebilah  pedang  yang  panjangnya  melebihi  panjang
badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda,
wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”
Rasulullah  gembira  dengan  dan  takjub  dengan  remaja  itu.  Tetapi,  beliau  tidak
mengizinkannya untuk berperang karena usianya yang masih sangat muda. Remaja
itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya untuk memperjuangkan
Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang dari tadi melihat dari
kejauhan,  tidak  kalah  sedihnya.  Sebab,  putranya  belum  mendapat  kesempatan
membela Islam.

Tapi mereka tidak menyerah. Cita-cita remaja itu tidak melemah, bahkan semakin
kuat. Demikian pula ibunya menginginkan. Karenanya, si ibu menghubungi kerabatkerabatnya untuk menyampaikan tekad anaknya; berkontribusi untuk Islam dalam
bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima.
Mereka pun menghadap Rasulullah.
"Wahai Rasulullah! Ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an.
Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di samping itu
dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin
berbakti  kepada Anda  dengan  keterampilan  yang  ada  padanya,  dan  ingin  pula
mendampingi  Anda  selalu.  Jika  Anda  menghendaki,  silakan  mendengarkan
bacaannya." Pinta salah seorang pamannya.

Selepas  Rasulullah  mendengar  bacaannya,  beliaupun  menyuruh  remaja  itu  untuk
mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan diangkat sebagai
sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Remaja itulah
yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah untuk mereka.
Rasulullah  kemudian  menyuruhnya  untuk  belajar  bahasa  Suryani.   Dalam  waktu
singkat ia berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi sekretaris saat
Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang berbahasa Suryani.
Setelah Rasulullah benar-benar yakin dengan kompetensi dan syakhsiyah Islamiyahnya, remaja itu pun diangkat menjadi sekretaris wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur'an
turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya dan meletakkannya
dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Remaja itu bernama ZAID BIN TSABIT

Demikianlah  profil  pemuda  yang  diinginkan  Islam.  Ia  tidak  hanya  menikmati
keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan
Islam.
Pada tahun ke 10 H atau 1425 tahun yang lalu, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah saw hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa.  Jumlah  itu  setara  1  per  1000  dari  total  penduduk  bumi  ketika  itu,  yang berjumlah  sekitar  100  juta  jiwa.  Beberapa  hari  yang  lalu,  The  Pew  Forum  on Religion and Public Life menyodorkan data  bahwa jumlah umat Islam kini sebanyak 1,57 milyar orang. Jika perbandingan antara penduduk Muslim dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah saw adalah 1 per 1000, maka perbandingannya hari ini adalah 1 per 5 sampai 1 per 4. Subhaanallah, Allaahu akbar! Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut untuk kita syukuri.

Secara kuantitas kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu belum mampu untuk
membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul Islam wal Muslimin.
Sementara tujuan perjuangan Islam itu adalah sebagaimana firman Allah :
  
“dan perangilah mereka itu supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”  (QS. AlAnfal : 39)
Lalu  bagaimana  realita  hari  ini?  Islam  justru  dicurigai,  dipenuhi  dengan  stigma
negatif, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman.
Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya baru sebatas berislam
dalam  identitas,  belum  mengaplikasikan  Islam  dalam  kehidupannya.  Sedangkan
Allah SWT sendiri memerintahkan :


“Hai  orang-orang  yang  beriman,  masuklah  kamu  ke  dalam  Islam  secara  kaffah
(keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 208)

Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini, kita memerlukan para
pemuda  untuk  mengubahnya.  Mengapa  para  pemuda?  Sebab  pemudalah  yang
memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan itu. Empat karakter itu
adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Hasan Al-Banna dalam Majmu'atur Rasail mengatakan:

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa
keyakinan  kepadanya,  ikhlas  dalam  berjuang  di  jalannya,  semakin  bersemangat
dalam  merealisasikannya,  dan  kesiapan  untuk  beramal  dan  berkorban  dalam
mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan
amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya
dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang
bertaqwa,  dasar  semangat  adalah  perasaan  yang  menggelora,  dan  dasar  amal
adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda”.
(Risalah Ila Syabab)

Itulah mengapa Al-Qur'an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan agamaNya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah Islam
juga  diwarnai  oleh  para  pemuda.  Sebagian  dari  assaabiquunal  awwalun  yang
ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata adalah pemuda. Dai
yang ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah dan mengislamkan setiap
rumah adalah Mush'ab bin Umair, seorang pemuda. Komandan perang sekaligus
khalifah yang mampu menaklukkan konstantinopel ternyata juga seorang pemuda;
Muhammad Al-fatih namanya.
Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi seperti Zaid bin
Tsabit dalam kisah di awal khutbah ini. Miliki komitmen untuk memperjuangkan
Islam, dan Anda akan memperoleh pahala besar di sisi Allah SWT .


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad : 7)
Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika umat Islam hanya
diam  dan  pasrah  dengan  kondisi  yang  ada.  Sementara  para  pemudanya  hanya
berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme yang telah dkembangkan Barat.
Umat Islam, khususnya para pemudanya haruslah menjadi seperti hawariyyin yang
difirmankan Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana
Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah
 yang  akan  menjadi  penolong-penolongku  (untuk  menegakkan  agama)  Allah?"
Pengikut-pengikut  yang  setia  itu  berkata:  "Kamilah  penolong-penolong  agama
Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka
Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh
mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash-Shaf : 14)

Memperjuangkan  Islam  pada  saat  ini  harus  disesuaikan  dengan  kompetensi  dan
bidang masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang berjuang dengan ilmunya,
Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Utsman bin Affan dengan
hartanya, dan lain sebagainya. Maka, bagi kita yang memiliki harta, gunakanlah
harta  itu  untuk  memperjuangkan  Islam.  Bagi  yang  memiliki  kemampuan
menulis  gunakanlah  untuk  memperjuangkan  Islam dengan kemampuan karya tulis kita.  Bagi yang  memiliki kompetensi di bidang teknik, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana memperjuangkan Islam.

Rasulullah saw bersabda :

 “Barangsiapa yang mati, sedangkan ia belum pernah berperang (memperjuangkan
agama Allah) dan belum pernah berniat untuk berperang ((memperjuangkan agama
Allah), ia mati di atas cabang kemunafikan”. (HR. Muslim)
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk memperjuangkan Islam, dan
istiqamah di atas jalan itu sampai akhir hidup kita dalam husnul khatimah. Amien.