Kamis, 30 April 2015

KEGIATAN JELANG UN 2015



              Salah satu persiapan menghadapi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini, SMP Negeri 4 Ngawi pada hari Kamis tgl. 30 April 2015 mengadakan kegiatan do'a bersama yang dipimpin langsung oleh Guru PAI bersama Wakasek urusan Kesiswaan.
            Acara do'a bersama yang bertempat di masjid Al-Hikmah, masjid kebanggaan SMP Negeri 4 Ngawi diawali dengan pelaksanaan sholat dhuha dipimpin langsung oleh Guru PAI Drs. Irfan Budi Kustanto, MA
kemudian dilanjutkan dengan sholat hajat. Sebelumnya disampaikan muqodimah kepada siswa tentang pentingnya do’a bagi kehidupan manusia. Manusia yang enggan untuk berdoa adalah manusia sombong. Kebanyakan manusia setiap saat selalu berdo’a kepada Allah, namun kadang permohonannya belum dikabulkan oleh Allah swt. Dalam penjelasannya Drs. Irfan mengambil sebuah riwayat atau kisah dari Syaqiq Al Balkhi yang mengatakan : “pada suatu hari Ibrahim Bin Adham (Abu Ishaq) berjalan di pasar Basrah lalu ia dikelilingi oleh orang ramai dan mereka bertanya kepadanya : “Wahai Abu Ishaq, apa yang menyebabkan kami selalu berdoa kepada Allah swt namun tidak pernah dikabulkan.?” Bukankah Allah SWT telah berfirman : “Mintalah olehmu sekalian kepada Ku niscaya Aku kabulkan”. Dan kami telah satu tahun berdoa dan doa kami belum juga dikabulkan oleh allah swt!”. Ibrahim bin Adham menjawab : “Bagaimana Allah hendak mengabulkan doa kamu sedangkan hatimu tertutup oleh 10 perkara”, yaitu :
  1. Engkau mengenal Allah swt, tetapi tidak menunaikan hak-Nya
  2. Engkau membaca kitab Allah swt (Al Qur’an), tetapi tidak mau melaksanakan isinya
  3. Engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi engkau mengikuti tuntunannya
  4. Engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunnah beliau
  5. Engkau mengaku senang surga, tetapi tidak mau berbuat menuju kepadanya
  6. Engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa
  7. Engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya
  8. Engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri
  9. Engkau makan rezeki Allah swt, tetapi tidak bersyukur kepada-Nya
  10. Engkau menguburkan orang-orang yang meninggal dunia, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Seluruh siswa klas 9  yang didampingi Bapak dan Ibu Guru dengan tertib, khusyu' dan penuh harap mengikuti acara tersebut sampai selesai. Usai sholat dibacakan do'a yang isi pokoknya mohon kepada Allah swt agar siswa SMP Negeri 4 Ngawi yang mengikuti UN pada tahun ini diberikan ilmu yang bermanfaat, diberi kemudahan dalam berfikir, kemudahan dalam mengerjakan soal sehingga peserta ujian dapat lulus 100 %.
                   Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Guru PAI yakni Ibu Pujiningsih, M.Pd.I yang pada intinya menyampaikan bahwa dalam menghadapi UN diharapkan siswa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, percaya diri, belajar dan jangan lupa minta doa restu kepada orang tua yang di rumah yaitu ayah dan ibu, maupun di sekolah yaitu bapak dan ibu guru.
                    Kemudian acara pembinaan kepada para siswa, Ibu Kepala Sekolah yang diwakili oleh Bp. Gunari, M.Pd. selaku wakasek Kurikulum mengharapkan agar siswa senantiasa berusaha secara lahir maupun batin, yaitu dengan belajar sungguh-sungguh, kemudian diusahakan pula dengan berdo'a dan beribadah kepada Allah swt dan terakhir tawakal atau pasrah kepada Allah agar usaha yang telah dilakukan selama ini dapat dikabulkan oleh Allah swt. Terakhir Bp. Gunari M.Pd juga berpesan agar para siswa hari ini minta doa restu kepada Bpk/Ibu Guru SD tempat sekolahnya dulu dan juga sebelum UN dilaksanakan agar minta doa restu kepada semua Guru SMPN 4 Ngawi serta adik2 kelas 7 dan 8. Semakin banyak yang mendoakan, akan semakin memperlancar jalannya kemudahan dalam melaksanakan UN yang akan datang (IR)
                

Jumat, 10 April 2015

PELAJARAN DARI KISAH ASHABUL KAHFI



Alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Setelah beberapa bulan admin tidak sempat upload tulisan, pada kesempatan kali ini atas pertolongan Allah swt alhamdulillah bisa bagi-bagi ilmu pengetahuan lagi untuk semuanya.
Pada kesempatan kali ini, mengangkat sebuah tema tentang KISAH ASHABUL KAHFI yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an surat al-Kahfi, dan disampaikan sebagai bahan Khutbah Jum’at pada tgl 10 April 2015 oleh Drs. Irfan Budi Kustanto, MA selaku petugas Khotib dan Imam Jum’at yang diikuti oleh siswa kelas 8.
Kisah Ashabul Kahfi merupakan suatu kisah yang benar dan bersumber dari Al Qur’an, yaitu mengenai beberapa orang pemuda yang tertidur di dalam sebuah gua karena teraniaya oleh masyarakat dan penguasa pada masa-nya, dan mereka di“bangun”kan oleh Allah swt setelah 309 tahun kemudian.
Pemuda-pemuda beriman ini hidup pada masa Raja Diqyanus di Rom, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa as. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Demi menjaga iman, mereka melarikan diri dari kota, dikejar oleh tentara raja untuk dibunuh. Hingga pada suatu ketika, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian mereka.
Ashhabul Kahfi adalah para pemuda yang diberi taufik dan ilham oleh Allah swt sehingga mereka beriman dan mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat pada masa mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka, sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)

Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا

“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)

Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)

Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ

“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19) 

Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini :
1. Kebenaran adanya hari kiamat, yang manusia pada hari itu dibangkitkan dari kubur-kuburnya. Hal ini sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dibangkitkannya Ashhabul Kahfi setelah mereka tidur selama 309 tahun.
2. Menangnya orang-orang yang beriman terhadap orang-orang kafir, sebagaimana Allah swt memenangkan tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi dari kaum mereka yang kafir yang menghalangi mereka untuk mentauhidkan Allah swt.
3. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah swt melindunginya dan lembut kepadanya, serta menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk).
4. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati dan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah bagi agama seseorang. Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari suatu kejahatan.
5. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah swt.
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil: “Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kalian.” (Al-Kahfi: 19)
7. Bolehnya mewakilkan dalam hal jual-beli. “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.” (Al-Kahfi: 19)

8. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang.
Dan masih banyak faedah yang lainnya yang bisa diambil dari kisah ashabul Kahfi ini. Semoga sediit yang kami sebutkan di atas bisa memberi manfaat bagi kita semua. Amin.
Wallahu a’lamu bish shawab