KISAH ANAK
DENGAN AYAH IBUNYA
Suatu sore, seorang ayah sedang minum kopi duduk diteras depan sambil menunggu datangnya adzan maghrib. Lalu anaknya yang sudah menginjak usia dewasa datang menghampirinya, “Pak, beli motor ya?”, pintanya.
Ayah tak menjawab, hanya diam dan mengusap kepala sang anak. Tak ada jawaban, ia pun pergi meninggalkan ayahnya.
Tiga hari kemudian, dia kembali lagi. “Ayah, sekarang Ade banyak sekali kerjaan yah.
Coba deh ayah bayangin, Ade bolak balik ke kampus, udah gitu harus ngajar disekolah yang jauh, naik angkot sekitar 45 menit”, tuturnya.
“terus?”, balas Ayahanda tercinta.
“hemm, jadi kadang kakiku pegel yah, terus kalau di angkot suka ketiduran, eh malah sakit leher ini.
Kayaknya kalau Ade punya kendaraan sendiri, gak akan pegel pegel deh yah?”,jelasnya.
Seperti biasa, ayah tetap tak menjawab.
Pelan, dengan penuh sayang ia belai anak tercintanya itu.
Merasa tidak puas, ia pun pergi meninggalkan ayahanda tercinta.
Satu minggu kemudian, ia pun kembali menghampiri ayah yang sedang asyik baca koran.
“Yah, kemarin ada temen yang nawarin motor. Murah loh yah, masih bagus pula”,katanya.
“wah, berapa harganya?”, jawab ayah.
“tujuh juta yah, murah kan?”, balasnya.
“Ohh…”, lalu ayah terdiam tanpa ada satu kata pun keluar.
Singkat cerita, malam harinya, si anak terbangun dari tidurnya, padahal masih pukul 02.30 dini hari.
Karena nanggung tidur lagi, akhirnya ia putuskan tuk menunggu adzan subuh dengan shalat malam.
Lepas mengambil air wudhu, ia mendengar ada suara bisik orang lagi mengobrol.
Ia pun mencoba mendekatinya, dan ternyata bersumber dari kamar kedua orang tuanya.
Ia pun merapatkan telinganya ke daun pintu, berusaha menyimak obrolan didalam sana.
“Bu, tabungan masih ada?”, tanya ayah.
“masih, kenapa yah?”, jawab ibu tenang.
“ada berapa bu?”, tanya ayah kembali.
“lumayan, ada tiga juta. Tapi, ibu anggarkan untuk bayar uang kos sama bayar kuliah Ade. Emang kenapa yah?”
“ohh, enggak. Kalo ditambah tabungan ayah jadi enam juta, masih kurang satu juta lagi. Gimana yah bu?”,tutur ayah pelan.
“emang buat apa yah?”, tanya ibu, heran.
“gini bu, Ade butuh motor, harganya tujuh juta”, jawab ayah.
“Ohh, buat itu. Ya udah, sisanya kita pinjem ke bank aja yah, gimana?”, saran ibu.
“Bisa sih, tapi uang ibu itu, gimana? Buat bayar ini dan itu..”, kata ayah.
“gampang aja, ibu bisa pinjem dulu ke tetangga sebelah. Yang penting Ade punya motor, mungkin dia butuh yah”, tutur ibu.
“iya bu, ayah gak tega kalau setiap hari Ade harus jalan, kakinya pegel, atau naik angkot sampe lehernya sakit, bolak balik kampus.
Gimana kalau Ade sakit karena kecapean bu, ayah khawatir”, jelas ayah.
“ya udah, ambil aja tabungan ibu yah. Sisanya kita cari besok, moga aja dapet. Ntar kita beli motor yang bagus buat Ade, biar gak pegel pegel lagi”, kata ibu.
Si anak yang mendengar obrolan malam itu, hanya diam terpaku dibelakang pintu.
Ia jatuh lunglai, lemas mendengar obrolan ayah dan ibunya.
Namun segera ia bangkit dan jalan perlahan menuju kamar.
Delapan rakaat tahajjud, ditutup witir ia tunaikan. Setangkai do’a ia lantunkan, bisik lirih hatinya disertai deraian air mata,
“Ya Rabb...., betapa naif dan egois diri hamba. Mudah mulut hamba berucap, minta ini dan itu. Tanpa hamba tau, betapa sulit ayah dan ibu untuk mengabulkannya.
Ya Rabb...., ampuni hamba, atas kelalaian ini. Ampuni dan lindungi pula kedua orang tuaku, yang selalu tersenyum didepanku, selalu memberikan motivasi kepadaku, selalu mengerti aku… walaupun, sedikit aku mengerti mereka.
Ya Rabb ...., dewasakanlah aku, agar menjadi anak yang baik, anak yg tetep mau berbakti kepada orang tua dan jadikanlah hamba yang baik, aamiin”
Seperti panas gersang tersiram hujan, ketenangan mengalir dalam darahnya.
Esok paginya, dia menghampiri ayah yang sedang duduk diteras.
“Ayah, Ade habis baca artikel tentang kesehatan.
Ternyata, jalan kaki itu sehat yah, apalagi kalau rutin.
Pantes yah, Ade jarang sakit.
Terus, Ade tau supaya gak sakit leher di angkot, Ade harus duduk di kursi depan, jadi posisi tubuh Ade lurus. Jadi, misalnya gak punya kendaraan sendiri juga, oke aja tuh.
Toh, entar kalau punya motor ribet juga ngerawatnya yah… “
Ayah hanya tersenyum, dan membelai penuh sayang anaknya tercinta.
Sesekali ia menyeka air mata yang menyembul dari matanya.
*****
Kadang kita suka meminta sesuatu pada seseorang, terutama kepada ayah dan bunda kita, tapi kita tak pernah sadari sekalipun untuk memikirkan bagaimana perjuangan mereka untuk membahagiakan kita.
Saat ayah dan bunda tak mengabulkan keinginan kita, bukan berarti mereka pelit.
TAPI ada banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, hanya kita tidak menyadarinya.
Suatu sore, seorang ayah sedang minum kopi duduk diteras depan sambil menunggu datangnya adzan maghrib. Lalu anaknya yang sudah menginjak usia dewasa datang menghampirinya, “Pak, beli motor ya?”, pintanya.
Ayah tak menjawab, hanya diam dan mengusap kepala sang anak. Tak ada jawaban, ia pun pergi meninggalkan ayahnya.
Tiga hari kemudian, dia kembali lagi. “Ayah, sekarang Ade banyak sekali kerjaan yah.
Coba deh ayah bayangin, Ade bolak balik ke kampus, udah gitu harus ngajar disekolah yang jauh, naik angkot sekitar 45 menit”, tuturnya.
“terus?”, balas Ayahanda tercinta.
“hemm, jadi kadang kakiku pegel yah, terus kalau di angkot suka ketiduran, eh malah sakit leher ini.
Kayaknya kalau Ade punya kendaraan sendiri, gak akan pegel pegel deh yah?”,jelasnya.
Seperti biasa, ayah tetap tak menjawab.
Pelan, dengan penuh sayang ia belai anak tercintanya itu.
Merasa tidak puas, ia pun pergi meninggalkan ayahanda tercinta.
Satu minggu kemudian, ia pun kembali menghampiri ayah yang sedang asyik baca koran.
“Yah, kemarin ada temen yang nawarin motor. Murah loh yah, masih bagus pula”,katanya.
“wah, berapa harganya?”, jawab ayah.
“tujuh juta yah, murah kan?”, balasnya.
“Ohh…”, lalu ayah terdiam tanpa ada satu kata pun keluar.
Singkat cerita, malam harinya, si anak terbangun dari tidurnya, padahal masih pukul 02.30 dini hari.
Karena nanggung tidur lagi, akhirnya ia putuskan tuk menunggu adzan subuh dengan shalat malam.
Lepas mengambil air wudhu, ia mendengar ada suara bisik orang lagi mengobrol.
Ia pun mencoba mendekatinya, dan ternyata bersumber dari kamar kedua orang tuanya.
Ia pun merapatkan telinganya ke daun pintu, berusaha menyimak obrolan didalam sana.
“Bu, tabungan masih ada?”, tanya ayah.
“masih, kenapa yah?”, jawab ibu tenang.
“ada berapa bu?”, tanya ayah kembali.
“lumayan, ada tiga juta. Tapi, ibu anggarkan untuk bayar uang kos sama bayar kuliah Ade. Emang kenapa yah?”
“ohh, enggak. Kalo ditambah tabungan ayah jadi enam juta, masih kurang satu juta lagi. Gimana yah bu?”,tutur ayah pelan.
“emang buat apa yah?”, tanya ibu, heran.
“gini bu, Ade butuh motor, harganya tujuh juta”, jawab ayah.
“Ohh, buat itu. Ya udah, sisanya kita pinjem ke bank aja yah, gimana?”, saran ibu.
“Bisa sih, tapi uang ibu itu, gimana? Buat bayar ini dan itu..”, kata ayah.
“gampang aja, ibu bisa pinjem dulu ke tetangga sebelah. Yang penting Ade punya motor, mungkin dia butuh yah”, tutur ibu.
“iya bu, ayah gak tega kalau setiap hari Ade harus jalan, kakinya pegel, atau naik angkot sampe lehernya sakit, bolak balik kampus.
Gimana kalau Ade sakit karena kecapean bu, ayah khawatir”, jelas ayah.
“ya udah, ambil aja tabungan ibu yah. Sisanya kita cari besok, moga aja dapet. Ntar kita beli motor yang bagus buat Ade, biar gak pegel pegel lagi”, kata ibu.
Si anak yang mendengar obrolan malam itu, hanya diam terpaku dibelakang pintu.
Ia jatuh lunglai, lemas mendengar obrolan ayah dan ibunya.
Namun segera ia bangkit dan jalan perlahan menuju kamar.
Delapan rakaat tahajjud, ditutup witir ia tunaikan. Setangkai do’a ia lantunkan, bisik lirih hatinya disertai deraian air mata,
“Ya Rabb...., betapa naif dan egois diri hamba. Mudah mulut hamba berucap, minta ini dan itu. Tanpa hamba tau, betapa sulit ayah dan ibu untuk mengabulkannya.
Ya Rabb...., ampuni hamba, atas kelalaian ini. Ampuni dan lindungi pula kedua orang tuaku, yang selalu tersenyum didepanku, selalu memberikan motivasi kepadaku, selalu mengerti aku… walaupun, sedikit aku mengerti mereka.
Ya Rabb ...., dewasakanlah aku, agar menjadi anak yang baik, anak yg tetep mau berbakti kepada orang tua dan jadikanlah hamba yang baik, aamiin”
Seperti panas gersang tersiram hujan, ketenangan mengalir dalam darahnya.
Esok paginya, dia menghampiri ayah yang sedang duduk diteras.
“Ayah, Ade habis baca artikel tentang kesehatan.
Ternyata, jalan kaki itu sehat yah, apalagi kalau rutin.
Pantes yah, Ade jarang sakit.
Terus, Ade tau supaya gak sakit leher di angkot, Ade harus duduk di kursi depan, jadi posisi tubuh Ade lurus. Jadi, misalnya gak punya kendaraan sendiri juga, oke aja tuh.
Toh, entar kalau punya motor ribet juga ngerawatnya yah… “
Ayah hanya tersenyum, dan membelai penuh sayang anaknya tercinta.
Sesekali ia menyeka air mata yang menyembul dari matanya.
*****
Kadang kita suka meminta sesuatu pada seseorang, terutama kepada ayah dan bunda kita, tapi kita tak pernah sadari sekalipun untuk memikirkan bagaimana perjuangan mereka untuk membahagiakan kita.
Saat ayah dan bunda tak mengabulkan keinginan kita, bukan berarti mereka pelit.
TAPI ada banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, hanya kita tidak menyadarinya.
(Copas from FB dg beberapa edit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar