Kegiatan rutin mapel Pendidikan Agama Islam untuk sholat
Jum’at, 9 Mei 2014 dilaksanakan oleh kelas 8 - sebagai petugas Imam dan
Khotib adalah Bp. Priono, S.Pd. Kali ini mengambil topik pembicaraan tentang
Pemuda dan Perjuangan Islam.
Mengawali khutbahnya waka urusan Kurikulum ini mengangkat
cuplikan sejarah Islam pada masa Rasulullah saw. beserta para sahabat beliau yg
bisa dijadikan uswah hasanah khususnya bagi pemuda dan remaja Muslim saat ini.
Diriwayatkan pada saat menjelang keberangkatan Rasulullah
dan para sahabatnya ke medan perang Badar, datanglah seorang remaja menghadap
Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang dengan
membawa sebilah pedang
yang panjangnya melebihi
panjang
badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya
bersedia mati untuk Anda,
wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda,
memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”
Rasulullah
gembira dengan dan
takjub dengan remaja
itu. Tetapi, beliau
tidak
itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya
untuk memperjuangkan
Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang
dari tadi melihat dari
kejauhan, tidak kalah
sedihnya. Sebab, putranya
belum mendapat kesempatan
membela Islam.
Tapi mereka tidak menyerah. Cita-cita remaja itu tidak
melemah, bahkan semakin
kuat. Demikian pula ibunya menginginkan. Karenanya, si ibu
menghubungi kerabatkerabatnya untuk menyampaikan tekad anaknya; berkontribusi
untuk Islam dalam
bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima.
Mereka pun menghadap Rasulullah.
"Wahai Rasulullah! Ini anak kami. Dia hafal tujuh belas
surat dari kitab Al-Qur’an.
Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada
Anda. Di samping itu
dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan
bacaannya lancar. Dia ingin
berbakti kepada
Anda dengan keterampilan
yang ada padanya,
dan ingin pula
mendampingi Anda selalu.
Jika Anda menghendaki,
silakan mendengarkan
bacaannya." Pinta salah seorang pamannya.
Selepas
Rasulullah mendengar bacaannya,
beliaupun menyuruh remaja
itu untuk
mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil,
dan diangkat sebagai
sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang-orang
Yahudi. Remaja itulah
yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah
untuk mereka.
Rasulullah
kemudian menyuruhnya untuk
belajar bahasa Suryani.
Dalam waktu
singkat ia berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi
sekretaris saat
Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang berbahasa
Suryani.
Setelah Rasulullah benar-benar yakin dengan kompetensi dan
syakhsiyah Islamiyahnya, remaja itu pun diangkat menjadi sekretaris wahyu.
Setiap kali ayat Al-Qur'an
turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya
dan meletakkannya
dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah.
Remaja itu bernama ZAID BIN TSABIT
Demikianlah
profil pemuda yang
diinginkan Islam. Ia
tidak hanya menikmati
keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen
untuk memperjuangkan
Islam.
Pada tahun ke 10 H atau 1425 tahun yang lalu, seluruh muslim
yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah saw hanya berjumlah
100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu
setara 1 per
1000 dari total
penduduk bumi ketika
itu, yang berjumlah sekitar
100 juta jiwa.
Beberapa hari yang
lalu, The Pew
Forum on Religion and Public Life
menyodorkan data bahwa jumlah umat Islam
kini sebanyak 1,57 milyar orang. Jika perbandingan antara penduduk Muslim
dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah saw adalah 1 per 1000, maka
perbandingannya hari ini adalah 1 per 5 sampai 1 per 4. Subhaanallah, Allaahu
akbar! Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut
untuk kita syukuri.
Secara kuantitas kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu
belum mampu untuk
membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul
Islam wal Muslimin.
Sementara tujuan perjuangan Islam itu adalah sebagaimana
firman Allah :
“dan perangilah mereka itu supaya jangan ada fitnah dan
supaya agama itu semata-mata untuk Allah”
(QS. AlAnfal : 39)
Lalu bagaimana realita
hari ini? Islam
justru dicurigai, dipenuhi
dengan stigma
negatif, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu
menjawab tantangan zaman.
Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya
baru sebatas berislam
dalam identitas, belum
mengaplikasikan Islam dalam
kehidupannya. Sedangkan
Allah SWT sendiri memerintahkan :
“Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam
secara kaffah
(keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah
syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah
: 208)
Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini,
kita memerlukan para
pemuda untuk mengubahnya.
Mengapa para pemuda?
Sebab pemudalah yang
memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan
itu. Empat karakter itu
adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Hasan Al-Banna dalam
Majmu'atur Rasail mengatakan:
“Sesungguhnya,
sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa
keyakinan kepadanya,
ikhlas dalam berjuang
di jalannya, semakin
bersemangat
dalam merealisasikannya, dan
kesiapan untuk beramal
dan berkorban dalam
mewujudkannya.
Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan
amal
merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya
dasar
keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang
bertaqwa, dasar
semangat adalah perasaan
yang menggelora, dan
dasar amal
adalah
kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda”.
(Risalah Ila Syabab)
Itulah mengapa Al-Qur'an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan
agamaNya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah
Islam
juga diwarnai oleh
para pemuda. Sebagian
dari assaabiquunal awwalun
yang
ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata
adalah pemuda. Dai
yang ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah dan
mengislamkan setiap
rumah adalah Mush'ab bin Umair, seorang pemuda. Komandan
perang sekaligus
khalifah yang mampu menaklukkan konstantinopel ternyata juga
seorang pemuda;
Muhammad Al-fatih namanya.
Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi
seperti Zaid bin
Tsabit dalam kisah di awal khutbah ini. Miliki komitmen
untuk memperjuangkan
Islam, dan Anda akan memperoleh pahala besar di sisi Allah
SWT .
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad
: 7)
Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika
umat Islam hanya
diam dan pasrah
dengan kondisi yang
ada. Sementara para
pemudanya hanya
berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme yang telah
dkembangkan Barat.
Umat Islam, khususnya para pemudanya haruslah menjadi
seperti hawariyyin yang
difirmankan Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong
(agama) Allah sebagaimana
Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya
yang setia: "Siapakah
yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan
agama) Allah?"
Pengikut-pengikut
yang setia itu
berkata: "Kamilah penolong-penolong agama
Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh
mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
(QS. Ash-Shaf : 14)
Memperjuangkan
Islam pada saat
ini harus disesuaikan
dengan kompetensi dan
bidang masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang
berjuang dengan ilmunya,
Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Utsman
bin Affan dengan
hartanya, dan lain sebagainya. Maka, bagi kita yang memiliki
harta, gunakanlah
harta itu untuk
memperjuangkan Islam. Bagi
yang memiliki kemampuan
menulis gunakanlah untuk
memperjuangkan Islam dengan
kemampuan karya tulis kita. Bagi yang memiliki kompetensi di bidang teknik,
kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana
memperjuangkan Islam.
Rasulullah saw
bersabda :
“Barangsiapa yang
mati, sedangkan ia belum pernah berperang (memperjuangkan
agama Allah) dan belum pernah berniat untuk berperang
((memperjuangkan agama
Allah), ia mati di atas cabang kemunafikan”. (HR.
Muslim)
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk
memperjuangkan Islam, dan
istiqamah di atas jalan itu sampai akhir hidup kita dalam
husnul khatimah. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar