Alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Setelah beberapa bulan admin tidak sempat upload
tulisan, pada kesempatan kali ini atas pertolongan Allah swt alhamdulillah bisa
bagi-bagi ilmu pengetahuan lagi untuk semuanya.
Pada kesempatan kali ini, mengangkat sebuah tema tentang KISAH
ASHABUL KAHFI yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an surat al-Kahfi, dan
disampaikan sebagai bahan Khutbah Jum’at pada tgl 10 April 2015 oleh Drs. Irfan
Budi Kustanto, MA selaku petugas Khotib dan Imam Jum’at yang diikuti oleh siswa
kelas 8.
Kisah Ashabul Kahfi merupakan suatu kisah yang benar
dan bersumber dari Al Qur’an, yaitu mengenai beberapa orang pemuda yang
tertidur di dalam sebuah gua karena teraniaya oleh masyarakat dan penguasa
pada masa-nya, dan mereka di“bangun”kan oleh Allah swt setelah 309 tahun
kemudian.
Pemuda-pemuda beriman ini hidup pada masa Raja Diqyanus di Rom,
beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa as. Mereka hidup di
tengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Demi
menjaga iman, mereka melarikan diri dari kota, dikejar oleh tentara raja untuk
dibunuh. Hingga pada suatu ketika, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang
kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian mereka.
Ashhabul Kahfi adalah para pemuda
yang diberi taufik dan ilham oleh Allah swt sehingga mereka beriman dan
mengenal Rabb mereka. Mereka mengingkari keyakinan yang dianut oleh masyarakat pada
masa mereka yang menyembah berhala. Mereka hidup di tengah-tengah bangsanya
sembari tetap menampakkan keimanan mereka ketika berkumpul sesama mereka,
sekaligus karena khawatir akan gangguan masyarakatnya. Mereka mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ
مِنْ دُوْنِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
“Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.” (Al-Kahfi: 14)
Yakni, apabila kami berdoa kepada selain Dia, berarti kami telah mengucapkan suatu شَطَطًا (perkataan yang jauh), yaitu perkataan palsu, dusta, dan dzalim.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan mereka selanjutnya:
هَؤُلاَءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ آلِهَةً
لَوْلاَ يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ
افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا
“Kaum kami ini telah mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia. Mereka tidak mengajukan alasan yang terang (tentang keyakinan mereka?) Siapakah yng lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
Ketika mereka sepakat terhadap persoalan ini, mereka sadar, tidak mungkin menampakkannya kepada kaumnya. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan urusan mereka:
رَبَّنَاآتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا
مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Wahai Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Al-Kahfi: 10)
Mereka pun menyelamatkan diri ke sebuah gua yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi mereka. Gua itu cukup luas dengan pintu menghadap ke utara sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalamnya. Kemudian mereka tertidur dengan perlindungan dan pegawasan dari Allah selama 309 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala buatkan atas mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ
“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi: 18)
Demikianlah agar jasad mereka tidak dirusak oleh tanah. Setelah tertidur sekian ratus tahun lamanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا (agar mereka saling bertanya), dan supaya mereka pada akhirnya mengetahui hakekat yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا
لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا
لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِْينَةِ
“Berkatalah salah seorang dari mereka: ‘Sudah berapa lama kalian menetap (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Yang lain berkata pula: ‘Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota membawa uang perakmu ini’.” (Al-Kahfi: 19)
Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari
kisah ini :
1. Kebenaran adanya hari kiamat, yang manusia pada
hari itu dibangkitkan dari kubur-kuburnya. Hal ini sangat mudah bagi
Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dibangkitkannya Ashhabul
Kahfi setelah mereka tidur selama 309 tahun.
2. Menangnya orang-orang yang beriman terhadap
orang-orang kafir, sebagaimana Allah swt memenangkan tujuh
orang pemuda Ashabul Kahfi dari kaum mereka yang kafir yang menghalangi mereka
untuk mentauhidkan Allah swt.
3. Sesungguhnya siapa saja yang berlindung kepada
Allah, niscaya Allah swt melindunginya dan lembut kepadanya, serta
menjadikannya sebagai sebab orang-orang yang sesat mendapat hidayah (petunjuk).
4. Melalui kisah ini kita dianjurkan untuk berhati-hati
dan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah bagi agama seseorang.
Dan hendaknya seseorang menyimpan rahasia sehingga dapat menjauhkannya dari
suatu kejahatan.
5. Diterangkan dalam kisah ini betapa besar kecintaan
para pemuda yang beriman itu terhadap ajaran agama mereka. Dan bagaimana mereka
sampai melarikan diri, meninggalkan negeri mereka demi menyelamatkan diri dari
segenap fitnah yang akan menimpa agama mereka, untuk kembali pada Allah swt.
6. Boleh memakan makanan yang baik dan memilih makanan
yang disenangi atau sesuai selera, selama tidak berbuat israf (boros
atau berlebihan) yang terlarang, berdasarkan dalil: “Hendaklah dia
lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu
untuk kalian.” (Al-Kahfi: 19)
7. Bolehnya mewakilkan dalam hal jual-beli. “Maka
suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota membawa uang perakmu ini.”
(Al-Kahfi: 19)
8. Faedah lain dari kisah ini bahwasanya bertanya
kepada yang tidak berilmu tentang suatu persoalan atau kepada orang yang tidak
dapat dipercaya, adalah perbuatan yang dilarang.
Dan masih banyak faedah yang lainnya yang bisa diambil
dari kisah ashabul Kahfi ini. Semoga sediit yang kami sebutkan di atas bisa
memberi manfaat bagi kita semua. Amin.
Wallahu a’lamu bish shawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar